Satria F150, Paking Selembar = 245 cc

Suzuki Satria F-150 2011 (Depok)

Kerap bikin keok musuh di kelas selembaran 500 meter

Ramainya balap trek lurus malam hari untuk Suzuki Satria F-150, bikin Alfa Alwiar kepincut nimbrung. Akhirnya F-150 miliknya jadi ‘tumbal’ demi memenuhi hobinya ini. Usahanya juga tidak sia-sia. Sudah banyak musuh yang dibuat keok motor milik mekanik yang akrab disapa ‘Ocem’ ini.

“Sekarang lagi ramai untuk jarak 500 meter, jadi kita seting untuk itu. Kalau speknya, main di kelas paking selembaran,” kata Ocem. Untuk mengejar regulasi paking selembaran, setang seher diganti milik Yamaha Scorpio. Setang seher milik sport Yamaha 225 cc ini punya dimensi yang lebih pendek dari milik F-150. Jadi, memungkinkan Ocem untuk menggeser posisi big end sebanyak 4 mm. Itu tanpa harus tambah paking tebal. Hasilnya, kini stroke menjadi 56,8 mm. Hitungannya, 48,8 mm (stroke standar F-150) + 8 mm (total naik-turun) = 56,8 mm.

Buat menambah daya ‘gedor’ power dari putaran bawah, seher standar F-150 yang berdiameter 62 mm juga diungsikan. Gantinya, piston berdiameter 74 mm masuk ke ruang silinder. Hasilnya, kapasitas silinder membengkak jadi 244,8 cc. Dibulatkan, jadi 245 cc.

Tentunya, isi silinder ini termasuk besar buat motor yang usung paking selembar alias paking blok standar. Akibatnya, proses keluar-masuk bahan bakar ke dalam ruang silinder harus disesuaikan. Klep pun ikut diganti. Klep isap pakai yang berdiameter 25 mm, sedangkan klep buang dipatok 23 mm.

Kem dibuat 249 derajat (in), dan 255 derajat (ex), Karburator gambot bantu ‘sembur’ bahan bakar dan udara maksimal
Durasi noken as ikut disesuaikan. Klep in dibuat membuka 19 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 50 derajat setelah TMB (Titik Mati Bawah). Jadi, noken as klep in punya durasi 249 derajat dengan overlap 2,3 mm.

Lalu, buat durasi noken as untuk klep ex dipatok 255 derajat. Klep buang dibuat membuka 53 derajat sebelum TMB dan menutup 22 derajat sebelum TMA. Overlap klepnya jadi 2,45 mm.

Mengimbangi besarnya isapan, maka part penyuplai campuran bahan bakar dan udara ke ruang bakar juga diganti. Ocem mempercayakan ke karburator Keihin PE 28 mm yang direamer jadi 32 mm.

Supaya motor lebih ngacir sejak putaran bawah, sektor kopling ikut dimaksimalkan. Ocem mengganti per kopling standar dengan tipe racing yang disandingkan kampas kopling Suzuki RGR 150 yang lebih awet dibanding kampas kopling standar F-150. (www.motorplus-online.com)

 

DATA MODIFIKASI

Ban depan : FDR 60/80-17
Ban belakang  : IRC Eat My Dust 60/90-17
Knalpot : DBS
Karburator : Keihin PE28
CDI : Rextor

Suzuki Satria FU150, Seting Kem Standar Jadi Juara OMR Satria!

Modif Suzuki Satria FU150, 2008 (Solo)

Utamakan seting kem standar, itu salah satu trik jitu tim Abakura Bungakarya di Suzuki Satria FU150 agar melesat kencang di Pertamina Enduro Comet K Factory KYT Dragbike Day Battle 201 M Championship. Pacuan ini bertarung di kelas One Make Race (OMR) Suzuki Satria FU s/d 155 cc yang diadakan di Tasikmalaya, Jawa Barat beberapa minggu lalu.
Development kem yang dilakukan tim Abakura Bungakarya, bisa mengantarkan joki Dwi Batank asal Semarang, Jawa Tengah melesat tercepat di kelasnya. Dalam official result, bisa tembus 8,075 detik di trek panjang 201 meter.

“Sebenernya simpel saja, untuk kelas OMR Suzuki Satria FU s/d 155 cc durasi kem diretouch. Dibikin enggak terlalu gemuk layaknya ibu-ibu hamil 9 bulan. Buat in, main di 262 derajat dan ex 261 derajat,” bilang Wawan Kristiarto, mekanik bengkel Abakura yang ada di Jl. Solo-Semarang KM. 3, Solo, Jawa Tengah.

Hitungannya, klep in membuka 22 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 60 setelah TMB (Titik Mati Atas). Sedangkan, ex membuka 60 derajat sebelum TMB dan menutup 21 derajat setelah TMA. Durasi segitu untuk mengawal klep in 22 mm dan ex 19 mm yang masih standar.

“Paling cocok untuk kelas 155 cc ya durasinya memang segitu. Bila terlalu gede, motor terlampau panjang nafasnya. Kurang bagus juga,” kata Wawan.

Penggunaan kem tadi, didukung maksimalisasi di bagian isi silinder. Kalau enggak didukung dan dimaksimalkan, enggak akan bisa melesat kenceng donk.

Untuk penggebuk kompresi, piston aplikasi kepunyaan Kawasaki Ninja 250R, diameter 62 mm yang pinggirnya dibikin mendem 0,9 mm dari bibir silinder. Dengan karakter piston yang lebih jenong, kompresi bisa lebih padet. Rasio kompresi mesin jadi 13,2 : 1.

Isi silinder masih pertahankan 150 cc. Padahal regulasi masih bisa sampai 155 cc. Di bagian pencampuran bahan bakar, Satria FU150 ini pakai karburator Keihin PJ 35 yang dijejali main-jet 120 dan pilot-jet 48.

Untuk meringankan putaran engine, di bagian magnet cangkok kepunyaan Yamaha YZ250. “Dengan aplikasi magnet YZ250, putaran kruk as bisa diringankan. Plusnya, motor bisa lebih cepet naik dan bikin torsi jadi galak,” tambahnya.

Soal rasio gearbox, juga ikut disesuaikan. Gigi I, 14/32 mata. Gigi II, 15/25 mata. Gigi III, 19/24 mata. Gigi IV, standar. Gigi V, 22/21 mata. Dan terakhir gigi VI, 24/20. Sedangkan di final gear, aplikasi 12/42 mata.

Gazz poll, cuy!. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Knalpot: DBS
Sokbreker belakang: YSS
CDI: Rextor Prodrag
Ban depan: IRC 60/80-17
Ban belakang: FDR AX 50/90-17

Suzuki Satria FU150, Drag Bike Look

Modif Suzuki Satria FU150, 2008 (Semarang)


Fajar yang pemilik Suzuki Satria FU ini tinggal di Tegal Waton, Kab. Semarang, Jawa Tengah. Di tempat tinggalnya itu, terdapat arena pacuan kuda yang sudah bertaraf nasional. Sehingga, tiap hari melihat wara-wiri kuda pacuan yang melintas di arena tersebut.
Terbesit keinginan yang sampai saat ini belum pernah terwujud. Yaitu, bagaimana rasanya menaiki kuda pacuan yang begitu tinggi dan gagah layaknya satria yang siap bertempur. Karena tidak sembarang orang yang bisa menaiki kuda yang seharga mobil mewah tersebut, maka obsesi dan keinginannya pun dicurahkan di besutan kesayangan.

Satria FU yang kebanyakan orang menyebutnya bebek Hyper Underbone, menjadi pelampiasannya. “Satria FU150 ini layak disejajarkan dengan kuda pacuan, karena memang motor ini menjadi jagoan di arena adu kebut,” alasannya.

Bukan adu kebut dengan kuda balap di sirkuit Tegal Waton, apalagi dengan kuda liar yang ada di Sumbawa. Tapi, Satria FU150 memang sudah terbukti mempunyai karisma tersendiri di balap trek lurus drag bike.

Dengan dasar itu, doi ingin mendandani FU150 layaknya kuda pacuan. Tak hanya soal tampilan, tapi akselerasi dan tenaga juga! Makanya, sektor rangka maupun bodi tidak banyak mengalami perubahan. Karena menurutnya, dari riding position dan tampilan sudah terlihat seperti orang naik kuda beneran. Jiahhhh…!!


“Bodi memang tidak mengalami banyak ubahan, untuk mempercantik tampilan dilakukan dengan menorehkan airbrush di sekujur bodi saja,” beber Agus yang diserahkan memoles si kuda Satria yang bukan satria berkuda itu.

Motif airbrush dengan garis-garis yang tidak begitu tegas, menghiasi seluruh cover bodi dengan kombinasi empat colour. Hijau, kuning, biru, dan ungu seolah menyatu membentuk gradasi yang indah. “Tidak ada pola tertentu pada torehan airbrush pada motor ini. Tapi, hanya mengejar kesan dinamis yang tak membosankan,” jelas Agus sang brusher.

Yang begitu mencolok justru pada lampu depannya, batok lampu depan aslinya dibentuk layaknya mata kuda yang menatap begitu tajamnya. “Untuk modifikasi batok headlamp, aku serahkan ke Ariyanto dari Q_Lap Motor,” jelas pemilik motor dengan nama lengkap Fajar Makhasin.

Batok kepala memang didesain ulang menggunakan fiberglass. Pastinya, mengacu pada sorot mata tajam kuda pacuan. Melihat performa mesin memang tidak banyak mengalami perubahan, karena basic dari motor ini sendiri sudah cukup mumpuni. “Hanya mempertegas kesan fashion racingnya saja dengan cara aplikasi komponen-komponen yang biasa ada di balap. Termasuk bikin kinclong juga,” tutupnya. (motorplus-online.com)


DATA MODIFIKASI
Slang rem: TDR
Teromol depan: Terminator
Gas spontan: Bungbon
Bengkel: Q_Lap Motor
 

Mix and Match Part Performa Suzuki Satria FU150

Tematis All About Suzuki Satria FU150

OTOMOTIFNET – Suzuki Satria FU150 bisa dibilang ayam jago yang cukup fenomal di kalangan pencinta kecepatan. Dengan mengusung dapur pacu tegak plus teknologi DOHC, kedahsyatan performanya sangat diacungi jempol. Tak heran kalau hyper underbone andalan pabrikan berlambang S ini laku keras di pasaran dan jadi penyumbang terbesar PT Suzuki Indomobil Sales selaku ATPM Suzuki Tanah Air.

Pembelinya kebanyakan kawula muda yang suka akan kecepatan. “Standarnya aja udah kencang banget,” kagum Juniardi, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Depok, Jabar yang 6 bulan lalu memutuskan untuk menebus motor ini.


CDI LEK step 2, indikator kecepatan dan putaran mesin tetap berfungsi

PE28 pakai pilot jet ukuran 45 lantaran karbu gak pakai filter dan knalpot menuntut suplai gas banyak di putaran bawah

Knalpot Ahau Motor, bisa untuk standaran hingga bore-up

Namun uniknya, masih saja banyak pemilik Satria yang masih enggak puas sama performa standarnya. Lalu sederet part pendongkrak tenaga pun diburu. Gak peduli meski banderolnya lumayan ‘menggigit’, tetap saja dicapit. Kepiting kali dicapit, hehehe!

Nah, beberapa ramuan yang kerap diaplikasi, tanpa mengorek mesin, antara lain menukar knalpot standar pakai jenis free flow, ganti karbu tipe velocity monoblock alias yang skep langsung ditarik kabel gas serta pemakaian otak pengapian unlimiter.

“Ketiga item part itu sebenarnya sudah lumayan bikin lari Satria FU makin ngacir. Bisa dongkrak tenaga hingga 3-4 dk ,” bilang Rudy Sukiman alias Ahau, juragan Ahau Motor (AM) di Jl. Akses UI, Kelapa Dua, Depok. Untuk membuktikannya, AM coba kasih ramuan andalannya. Diterapkan di Satria FU standar keluaran 2006.

Part-partnya antara lain sebagai berikut. Untuk saluran gas buang, dipercayakan produk dewek (merek Ahau Motor) yang tebuat dari stainless steel. Harga eceran tertingginya Rp 900 ribu. “Bisa buat FU standar hingga bore-up,” bilang Ahau.

Lalu otak pengapian pakai merek impor, yaitu LEK step 2 asal Thailand yang di pasaran dilego sekitar Rp 1 – 1,3 juta. Meski jenis kurvanya single map, CDI ini cukup banyak diandalkan para Satrior (sebutan untuk pemilik Satria yang suka kecepatan) lantaran cukup terbukti keandalannya. Putaran mesin bisa digeber mentok kalo pakai CDI ini.

Terakhir, karburator diganti pakai punya NSR SP, yaitu PE28. “Tapi jika pakai karburator ini, filter udara standar tak bisa lagi digunakan. Jadi, karburatornya nanti open filter,” terang Rusli, mekanik AM. Banderol PE28 di pasaran sekitar Rp 550 ribu. Oh iya, untuk kombinasi knalpot Ahau Motor plus CDI LEK, AM menyarankan spuyernya mesti disetting ulang. Kombinasi pilot jet dan main jetnya yaitu 115/42.

Sebagai ajang pembuktian, OTOMOTIF diberi kesempatan mengukur akselerasinya pakai performance test merek Race Logic buatan Inggris. Tentu hasilnya dibanding dengan akselerasi Satria FU standar pabrik yang sudah diuji terpisah sebelumnya. Hasilnya, silakan lihat tabel hasil tes akselerasi.

Ahau Motor: 021-71628889

Tabel hasil pengukuran akselerasi
Akselerasi Standar Knalpot+CDI+Karbu PE28
0-60 km/jam 5,1 detik 4,1 detik
0-80 km/jam 8,1 detik 7,0 detik
0-201 m 11,8 detik 10,2 detik
0-402 m 19,5 detik 17,1 detik
Top speed 120 km/jam 135 km/jam

Suzuki Satria F150, Kencang Tapi Elegan

Modif Suzuki Satria F150, 2012 (Jakarta)
Kalau biasanya bebek ayam jago berlambang huruf ‘S’ suka dipakai adu kebut di jalanan, lain lagi dengan Suzuki Satria FU150 milik Wahyudi Utammy Pratama. “Ide awal ingin tampil lebih elegan aja,” buka Yudi sapaan akrabnya.
Jelas boleh dibilang kalau Satria FU150 punya basic mesin yang sudah kencang dari pabriknya. Justru dengan modal mesin kencang, Yudi ingin tampil lebih menarik. “Lari bisa kencang dan elegan jadi nilai lebih dengan tampilan warna seperti ini,” candanya sembari diiringi senyum kecil di wajah.

Kebetulan tak ada tema khusus saat melabur cat pada motornya ini. Dia order langsung pada bengkel A Concept yang bermarkas di Purworejo, Jawa Tengah.

“Dulu saya sempat tinggal di Jawa, jadi saya order langsung disana,” jelas Yudi.

A Concept yang digawangi Ambar, memang cukup jeli soal pewarnaan. Sekujur bodinya dipadu dua warna kombinasi putih dan merah. Pada beberapa bagian komponen parts, juga wajib kena sentuhan warna lain.

“Warna bodi merah dan putih ditambah lagi dengan krom. Biar makin kinclong,” cetus Yudi yang bekerja sebagai accounting perusahaan swasta di Jakarta.

Setelah keseluruhan warna motor berubah, Yudi berinisiatif aplikasi variasi lain. Mulai dari baut sampai jari-jari, dihias warna gold. Sehingga, seluruh tampilan mendukung konsep yang diterapkan. “Penampilan sudah kece. Mesin gak banyak ubahan, saya cuma pasang per kopling racing i, karbu Keihin PE 28 dan CDI Rextor,” enteng Yudi.

Mantafff…!! (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : FDR 70/80-17
Ban belakang : FDR 70/80-17
Pelek : Champ
Teromol : Zox
A Concept : 0852-28382351

Upgrade Satria FU150 Biar Tenaganya Nampol

Tematis All About Suzuki Satria FU150

OTOMOTIFNET – Meski mesin sudah 150 cc, DOHC, soal performa Suzuki FU standar masih dianggap kurang ‘nampol’ buat Yogi Arif yang juga distributor pulsa di daerah Jombang, Jatim ini. “Kurang lah, apalagi gue ini speedgoers,” akunya.

Alhasil dari keuntungan usahanya itu, ia perlahan meng-upgrade performa mesin FU-nya. Penggarapnya, diserahkan pada Dhidy dari bengkel D2M di Jl. Kapin, Kp. Baru No.1, Pondok Kelapa, Kalimalang, Jaktim.

Eits gak sembarang oprek loh! Cuaca di daerah Jombang yang cenderung kemarau jadi pertimbangan Dhidy. “Soal mesin gue agak bingung karena cuaca di Jombang cukup panas, jadi sebisa mungkin gue bikin motor ini lebih ‘kabur’ (kenceng) dari yang lainya,” urai mekanik asli Betawi ini.

Bagian pertama yang kena sentuhan, blok silinder diisi seher berdiameter 72 mm. Karena diameter seher membengkak, bagian boring juga ikut menyesuaikan diameter seher tadi. Dengan begitu, angka kompresi melonjak jadi 12,8:1.


PWK 28 membuat sistem pengabutan lebih maksimal

Percikan api di ruang bakar lebih besar berkat CDI tanpa nama

“Kompresi gue buat sedemikian rupa guna menghindari jebol mesin. Nggak sampai di situ, kruk as juga dibandul dan dibalance ulang agar performanya maksimal. Oh iya, menyangkut kitiran mesin, berat magnet juga diatur ulang.
Masalah pasokan bahan bakar, pintu keluar masuknya campuran BBM cukup mengadopsi kombinasi klep bawaan standar yakni 21 mm di bagian in dan 19 mm di klep ex.


Knalpot DBS, imbangi Tarikan bawah atas

Masih berhubungan dengan klep, noken as berdurasi 290 derajat jadi pilihan Dhidy. Hal itu bertujuan agar mendapatkan torsi mesin yang maksimal. Artinya, gak terlalu berat di bagian bawah dan gak ‘siem’ di atasnya.

Sedang untuk sistem pengabut bahan bakar, diandalkan karburator tipe Keihin PWK 28. Untuk masalah jeroannya, diisi dengan pilot jet ukuran 45 dan main jet 118.

Ada bensin pasti ada api dong! Nah agar percikan api jadi tambah besar, diaplikasi CDI racing tanpa merek. Sstt! Katanya sih hampir sama dengan buatan CMS lo, hehehe! Terakhir, sebagai sarana pembuang gas sisa pembakaran, knalpot DBS jadi sasaran. “Lumayan, bikin laju motor tambah ngibrit!” terangnya.

Lho, bunyi mesinnya kok, kriinggg….! Hehehe..

Data Modifikasi
CDI : Custom D2M
Seher: 72 mm High Speed
Knalpot : DBS
Karburator : PWK 28
Transmisi: Full ratio by D2M
Sokbreker belakang : Kitaco

Performance Parts Satria FU150, Buat Harian dan Balapan

Tematis All About Suzuki Satria FU150

OTOMOTIFNET – Memang, Satria FU dengan kapasitas mesin 150 cc boleh dibilang punya tenaga cukup untuk membawa pembesutnya ‘terbang’. Tetapi, tentu kondisi mesin standar masih belum memuaskan hasrat penggunanya. Apalagi kalau memang digunakan sebagai tunggangan adu kencang. Otomatis, perlu parts peningkat performa. Umumnya korekan ini terbagi dua, untuk sehari-hari dan untuk ajang balap.

Untuk penggunaan sehari-hari, korekan cukup dilakukan dengan porting, polish serta penggunaan komponen seperti karburator, CDI dan penggantian knalpot free flow.

Seperti dikatakan Dhidy dari D2M di kawasan Kalimalang, Pondok Kelapa, Jaktim. “Kalau korek harian sih cukup melakukan porting polish, mengganti CDI, tukar karburator serta memasang knalpot free flow saja,” ujarnya.

Hal serupa juga disebut Tomy Huang pemilik bengkel BRT di Jln Mayor Oking, Cibinong, Jabar. Menurutnya, peningkatan sebesar 1 dk sudah bisa dilakukan dengan melakukan beberapa korekan seperti disebut di atas.

Karburator favorit sepertinya tak lepas dari milik Honda NSR SP, yaitu Keihin PE 28 atau bisa juga milik Yamaha RX King Mikuni dengan venturi 26 mm. “Tentu pilihan venturi lebih besar pasokan udara dan bahan bakarnya lebih banyak,” tukas Dhidy.


CDI beragam pilihan dijual kisaran RP 500 ribu

Sementara jika mau modifikasi lebih ekstrem, karena sang Satria ingin dipakai ajang balap, tentu ada lagi komponen yang mesti diupgrade. “Cukup banyak dan tentunya biayanya jadi lebih besar,” urai Dhidy. Penggantian kem, piston bore up serta naik stroke bisa dilakukan.

Camshaft alias kem ini, bisa pakai produk aftermarket seperti NMF atau HRP. “Harganya berkisar di atas Rp 1,5 juta untuk NMF sementara untuk barang sekelas HRP bisa ditebus Rp 1 jutaan,” katanya. Soal durasi kem tentu disesuaikan kebutuhan, bisa saja pakai 270 derajat, 290 derajat atau lainnya. “Tergantung kebutuhannya saja,” lanjut Dhidy.


Camsaft ganda pun tersedia versi versi durasi tinggi

Versi efisien karbu PE28

Piston manfaatkan diameter lebih besar pun bisa dilakukan dengan memasang piston Yamaha Scorpio, berdiameter 72 mm, lebih besar dibanding aslinya, 62 mm. Begitu pun pen piston stroker biasanya digunakan agar menaikkan performa di balap.

Knalpot pun begitu, aftermarket yang umumnya digunakan, DBS dan Yoshimura dan Kawahara. Menurut Rini dari F16 Motor di Jln Ciledug Raya, Ciledug, Banten knalpot ini dijual di kisaran harga Rp 325 ribu hingga Rp 1,25 juta. Soal penyalur gas buang ini tak hanya diaplikasi pada Satria untuk balap saja, tetapi tunggangan korek harian pun oke dengan knalpot ini.

Paket Bore Up Satria FU, Pakai Blok Ceramic Coating

Racing Part

Paket bore up yang ditawarkan Shark Racing untuk Satria FU 150 ini memang terbilang nanggung, cuma 66 mm. Kalau dihitung, kapasitas ruang bakarnya cuma bengkak dari 150 cc jadi 167 cc. Meski begitu, yang istimewa adalah finishing blok silindernya.

“Ini pakai ceramic coating,” buka Tikky dari Shark Racing. Yang jelas material ini diyakini lebih kuat dan tahan panas. Artinya memang cocok untuk keperluan korek harian yang masih butuh durabilitas.

Buat yang berminat dan mau tanya-tanya datang saja ke Shark Racing yang gerainya ada di JL.Tongkol No.5, Rawamangun, Jakarta Timur atau kontak di 0812 884 9988. Sip deh! (motorplus-online.com)

Suzuki Satria F-150, Resep Bisa Raih Rekor 7,5 Detik

Modif Suzuki Satria F-150, 2004 (Solo)
Bersama Dwi Batank joki drag bike asal Semarang, Suzuki Satria F-150 di tangannya seakan tidak ada lawan. Satria F-150 racikan Wawan Kristianto dari tim Abakura Ditra Jaya, Solo, menorehkan catatan waktu 7,5 detik. Ini merupakan rekor terbaik untuk kelas Bebek Tune-Ip 200 cc.
“Motor ini sebenarnya masih dalam tahap riset. Kemampuan sebenarnya belum bisa dimaksimalkan,” rendah sang tunner. Belum maksimal saja sudah seperti itu, apalagi kalau sudah maksimal.

Mari kita coba kupas motor keluaran 2004 ini. Wawan coba memaksimalkan ruang bakar dengan cara memperbesar diameter silinder. Asumsinya semakin besar ruang bakar maka kebutuhan bensin akan semakin lebih banyak.

Berbekal piston LHK, Wawan berusaha untuk memperbesar ruang bakar. Caranya, tentu dengan memperbesar diameter piston dan bikin lebih panjang langkah piston. “Diameter standar F-150 62 mm. Dengan aplikasi piston LHK itu, diameter berubah jadi 70 mm. Otomatis stroke ikutan naik 2 mm jadi 50,8 mm. Cc-nya jadi 195,4 cc,” bebernya.

Selanjutnya untuk mendapatkan ledakan besar di dalam ruang bakar kompresi dipadatkan. Melalui perhitungan matematika didapat perbandingan kompresi di kisaran angka 13,3:1. Dengan perbandingan kompresi sebesar ini dirasa masih cukup aman dan awet untuk mesin.

Katup masuk-buang bahan bakar juga diperbesar. Dipilih katup isap dan buang dari Kawasaki KLX250 yang punya diameter lebih besar. “Ada kesulitan saat menentukan berapa diameter katup yang akan dipakai karena akan disesuaikan dengan besar piston,” tegas Wawan lagi.

Valve KLX250 tidak bisa langsung dipasangkan karena diameternya masih terlalu besar. Untuk itu, Wawan membubut klep KLX250. Akhirnya, katup isap jadi 24,5 mm dan katup buang jadi 20,5 mm. Ukuran segitu dirasa masih cukup aman dan mampu menghasilkan tenaga optimal dan sesuai harapan .

Durasi pembukaan dan penutupan katup isap maupun katup buang juga diatur ulang. Tujuannya untuk lebih memaksimalkan pemasukan campuran bahan bakar yang disemprotkan karburator Keihin PWK 33. Katup masuk dibuat membuka 30 derajat sebelum TMA dan menutup 60 derajat setelah TMB. Sedangkan katup buang membuka di 60 derajat sebelum TMB dan menutup 30 derajat setelah TMA. “Jadi durasi katup in maupun ex ada di angka 270 derajat,” tegasnya.

Bahan bakar yang masuk sudah banyak dan juga hasil kompresi diyakini akan menjadi lebih padat. Langkah berikutnya adalah seting ulang pengapian. “Pengapian dari CDI Rextor GRM dan selanjutnya timing pengapian diseting di angka 360.”

Inilah yang bikin rekor! (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Piston: LHK
Busi : NGK Platinum
Knalpot: MCC
Sokbreker depan: Yamaha Mio
Sokbreker belakang: YSS ninja KRR
Rem belakang : Honda Karisma
Pelek : Excel Takasogo

Suzuki Satria F-150, Juara Berkat Baca Cuaca

Modif Suzuki Satria F-150, 2008 (Boyolali)
Tim road race maupun drag bike, harusnya pintar membaca kelembaban dan cuaca sekitar ketika balapan. Karena sudah barang tentu mempengaruhi setingan motor.

Seperti yang dilakukan tim Anugrah Lophe Lophe, di gelaran bertajuk Enduro Day Battle Drag Bike Championship (EDBDBC) 2012 yang diadakan di Jl. Kol. Ediyono Martadipura, Kabupaten Bogor. Tim asal Boyolali ini, mempelajari cuaca di daerah Bogor-Jawa Barat yang cenderung lebih panas dibanding Boyolali, Jawa Tengah.

Hasil pemahaman cuaca ini di terapkan di Suzuki Satria F-150 yang mengikuti kelas 150 Tune Up. “Bila di Boyolali pilot-jet dan main-jet dibikin irit dengan ukuran 42/125, setingan ini cocok di daerah sana yang dingin, ketika balap di derah panas mesti dibikin jadi lebih boros dengan ukuran 42/128 di karburator PWK Sudco 35,” kata Santoso, mekanik tim Anugrah Lophe Lophe.

Tapi, tentunya bukan hanya itu yang diubah di Satria FU ini. Yang paling extrime, pembuatan ulang rasio gigi yang dibikin dengan bahan besi baja, oleh Cebleng panggilan tenar Santoso. Besi baja ini di rebuild pake alat bubut jadi ukuran rasio gigi 1 14/30, gigi 2 16/25, gigi 3 19/25, gigi 4 standar 23/21, gigi 5 standar 25/20.

“Rasio gigi sudah diubah, agar maksimal rasio, gir depan dikurangi satu mata jadi 13 mata, dari standarnya 14 mata,” tambah Cebleng.

Di bagian mesin, tim ini memepercayakan piston standar diameter 62 mm, dikawal panjang langkah 48,8 mm, untuk menggebuk kompresi 10,2 : 1. Serta katup in dan ex masih bawaan pabrik.

Durasi kem standar dicustom, agar suplay bahan bakar yang masuk-keluar keruang bakar bisa diatur sesuai waktu yang diinginkan. Noken as in 270 dan ex 270.

Angka 270 didapat dari klep isap membuka 30 sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 60 setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan klep buang membuka 60 sebelum TMB dan menutup 20 setelah TMA.

Pengapian dibikin advance lewat aplikasi CDI aftermarket Rextor yang dialirkan ke koil Yamaha YZ125, tapi magnet masih mengandalkan standar. “Pengapian dibikin total lose, sehingga kelistrikan mengandalkan dari tenaga aki,” tambahnya.

Bermodalkan pembacaan cuaca sekitar, hasilnya Satria FU yang ditunggangi Topik Ompong ini, berhasil finish sebagai juara pertama dengan best time 8,14 detik. Mantap bro.  (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Knalpot: MCC Racing Muffler
Monosok: YSS Z Series
Ban depan: IRC Eat My Dust 50/90-17
Ban belakang: IRC Eat My Dust 60/80-17
Teromol belakang: Suzuki Smash