Modifikasi : Suzuki Satria F-150 2011 Cirebon, Konsepnya Dugem Racing Looks

Suzuki Satria F-150 2011

Cover bodi serba ramai

Edo Prasetio sangat doyan segala hal berbau dugem, alias dunia gemerlap. Eits, tetapi ini bukan bicara musik atau dunia malam gemerlap. Melainkan, tema modifikasi pada Suzuki Satria F-150 milik Edo.

Yups! Tengok saja tampilan hyper underbone lansiran 2011 ini. Meskipun dari segi konsep lebih mengacu pada model racing style, namun urusan detail Edo memilih untuk menerapkan tema dugem dalam pemasangan cutting sticker-nya.

“Tema ini saya pilih karena sangat modern dan digandrungi beragam kalangan. Jadi, saya ingin mengambil tema modif dugem yang dikombinasikan dengan konsep racing looks,” ujar Edo, yang berstatus pelajar SMU.

Untuk itu, Edo lantas menyambangi Xanane Custom Modified (XCM) di Jl. Tanda Barat No. 41, Cirebon, Jawa Barat. Pada Anu, punggawa XCM, Edo ingin mewujudkan ambisinya tersebut sesuai konsep yang dipilih.

Peranti ciet-nya kecil aja

Langkah awal, Anu melucuti semua cover bodi Satria F-150 untuk dilakukan pengecatan ulang. Warna dasar yang dipilih, dominan biru pada seluruh permukaan cover. Sedangkan untuk tulang rangka, dipilih kelir merah serta dipadukan dengan kuning di bagian mesinnya.

Bagian detail bodi berupa pemasangan cutting sticker. Cover bodi, mulai dari bagian depan, tengah hingga buritan, terpampang jelas konsep dari aliran musik ajeb-ajeb. Mulai dari speaker, orang lagi joget hingga DJ lagi mainkan player CD. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan: Swallow 50/90-17
Ban belakang: Swallow 60/80-17
Sok depan: Trusty
Knalpot: CRB
XCM: 0896-6946-7955

Modifikasi Suzuki Satria F150, 2010

Suzuki Satria F150, Suka Yang Ngejreng!

Jakarta – Sebagai anak muda, tentu saja jiwa Rangga masih semangat-semangatnya buat menunjukkan jatidiri. Entah melalui prestasi sekolah hingga menyalurkan kreativitas dengan Suzuki Satria F150 2010 sebagai medianya. Nah kalo begini sudah diketahui, kalo Rangga menjiwai dunia otomotif, khususnya roda dua.

Kreativitas yang ditunjukkan oleh pemuda yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Makassar, Sulsel ini layak diapresiasi. Kuda besi 150 cc DOHC miliknya jadi tampil keren tuh, belum lagi warnanya jadi makin ngejreng.

“Aku memang gak kerjakan semuanya sendiri tapi pemilihan tema dan warna, idenya dari aku sendiri,” paparnya. “Kenapa motif airbrush grafis, karena rata-rata grafis itu punya warna yang terang dan ngejreng karena aku suka itu,” sambungnya.


Batok headlamp dibuat ulang dengan fiberglass, bikin tampilan headlamp jadi lebih sipit dan agresif. Bahkan area yang jarang di-airbrush juga ikutan kena, seperti swing arm dan gir belakang ini bro, ngejreng abeezz…

Pemilihan airbrush dengan motif grafis berwarna cerah di sekujur bagian motor juga sebagai trik. Katanya sih buat mengakali pilihan aksesori yang gak terlalu banyak di kota asalnya. “Jadi yang melihat langsung fokus pada airbrush motor aku, bukan aksesori yang dipasang,” terang Rangga.

Trik lain selain airbrush, pemuda kalem ini juga memaksimalkan part bawaan motor yang sedikit dimodfikasi. Contoh swingarm yang dibuat bolong-bolong, headlamp dengan batok yang menyipit, terus ada kunci kontak yang diberi tutup layaknya kemudi kapal. Sementara part aksesori yang terlihat jelas cuma setang jepit dan knalpot racing R9.

Yang penting ngejreng! (motor.otomotifnet.com)

Satria F150, Paking Selembar = 245 cc

Suzuki Satria F-150 2011 (Depok)

Kerap bikin keok musuh di kelas selembaran 500 meter

Ramainya balap trek lurus malam hari untuk Suzuki Satria F-150, bikin Alfa Alwiar kepincut nimbrung. Akhirnya F-150 miliknya jadi ‘tumbal’ demi memenuhi hobinya ini. Usahanya juga tidak sia-sia. Sudah banyak musuh yang dibuat keok motor milik mekanik yang akrab disapa ‘Ocem’ ini.

“Sekarang lagi ramai untuk jarak 500 meter, jadi kita seting untuk itu. Kalau speknya, main di kelas paking selembaran,” kata Ocem. Untuk mengejar regulasi paking selembaran, setang seher diganti milik Yamaha Scorpio. Setang seher milik sport Yamaha 225 cc ini punya dimensi yang lebih pendek dari milik F-150. Jadi, memungkinkan Ocem untuk menggeser posisi big end sebanyak 4 mm. Itu tanpa harus tambah paking tebal. Hasilnya, kini stroke menjadi 56,8 mm. Hitungannya, 48,8 mm (stroke standar F-150) + 8 mm (total naik-turun) = 56,8 mm.

Buat menambah daya ‘gedor’ power dari putaran bawah, seher standar F-150 yang berdiameter 62 mm juga diungsikan. Gantinya, piston berdiameter 74 mm masuk ke ruang silinder. Hasilnya, kapasitas silinder membengkak jadi 244,8 cc. Dibulatkan, jadi 245 cc.

Tentunya, isi silinder ini termasuk besar buat motor yang usung paking selembar alias paking blok standar. Akibatnya, proses keluar-masuk bahan bakar ke dalam ruang silinder harus disesuaikan. Klep pun ikut diganti. Klep isap pakai yang berdiameter 25 mm, sedangkan klep buang dipatok 23 mm.

Kem dibuat 249 derajat (in), dan 255 derajat (ex), Karburator gambot bantu ‘sembur’ bahan bakar dan udara maksimal
Durasi noken as ikut disesuaikan. Klep in dibuat membuka 19 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 50 derajat setelah TMB (Titik Mati Bawah). Jadi, noken as klep in punya durasi 249 derajat dengan overlap 2,3 mm.

Lalu, buat durasi noken as untuk klep ex dipatok 255 derajat. Klep buang dibuat membuka 53 derajat sebelum TMB dan menutup 22 derajat sebelum TMA. Overlap klepnya jadi 2,45 mm.

Mengimbangi besarnya isapan, maka part penyuplai campuran bahan bakar dan udara ke ruang bakar juga diganti. Ocem mempercayakan ke karburator Keihin PE 28 mm yang direamer jadi 32 mm.

Supaya motor lebih ngacir sejak putaran bawah, sektor kopling ikut dimaksimalkan. Ocem mengganti per kopling standar dengan tipe racing yang disandingkan kampas kopling Suzuki RGR 150 yang lebih awet dibanding kampas kopling standar F-150. (www.motorplus-online.com)

 

DATA MODIFIKASI

Ban depan : FDR 60/80-17
Ban belakang  : IRC Eat My Dust 60/90-17
Knalpot : DBS
Karburator : Keihin PE28
CDI : Rextor

Suzuki Satria F150, Tejangkit Virus SR

Modifikasi Suzuki Satria F150, 2011 (Bekasi)

Bekasi – Saat ini memang lagi ngetren modifikasi ala Thailand. Sehingga banyak pengguna yang merombak tampilan besutan kesayangannya sesuai keinginan. Sedang alirannya cukup beragam, ada street racing (SR), standar fashion dan lainnya.

Seperti M. Ikhsan Kamil, pemilik Suzuki Satria F150. Pria muda ini terjangkit virus alias modif tren sekarang yang bergaya SR. Dari konsep modif tersebut dipadukan dengan tampilan sedikit agak telanjang. Wah, pornografi, bro!

“Maksudnya, sebagian bodi di FU tersebut dilepas. Rangka dibikin kelihatan dan bodi belakang dipotong alias kena coak. Sasis dicat pink serta bodi di-airbrush grafis. Kalo mesin cuma dipoles dikit aja, tapi tetap masih bisa ngacir, lo!” ucap Kamil, sapaannya.

Untuk itu, engine pekgo alias 150 cc itu diserahkan ke Chemonk Baron Racing Team (CBRT) di daerah Cikunir Raya, Cikunir, Bekasi, Jabar. Sedangkan tunggangan makin ganteng karena dipegang sama Teras Concept (TC) di Jl. Sersan H. Hambali, Bekasi, Jabar.

Keren gak bro? (motor.otomotifnet.com)

Suzuki Satria FU 150, Modif Gaul dan Fashionable

Modifikasi Suzuki Satria FU 150, 2007 (Bekasi)

Bekasi – Besutan berlambang S dengan kapasitas mesin cukup besar, memang digandrungi para kaula muda. Selain meng-upgrade engine, juga banyak yang mempercantik tampang motor itu. Yakni, Suzuki Satria FU 150.

Seperti halnya Ferryant, seorang brusher dari Ferryant Art (FA) di daerah Mekar Sari Barat, Tambun, Bekasi, Jabar. Pria ramah ini sangat menyukai keunggulan dan tampang besutan 2007 tersebut. Maka, Satria 4 tak miliknya itu ingin tampilannya lebih gaul dan fashionable.

Berbekal ilmu soal ngecat alias airbrusher, langsung aja dioprek-oprek alias di modifikasi. Konsepnya mengambil aliran fungky style, karena FU tersebut kerap mengikuti kontes modifikasi. Pengin tahu detailnya?

Nih, hasil garapannya, bro! (motor.otomotifnet.com)

Suzuki Satria F-150, Simpel Tapi Centil

Modifikasi Suzuki Satria F-150, 2011 (Cibinong)

Tampil simpel namun centil, mungkin jadi kata yang tepat buat menggambarkan Suzuki Satria F-150 garapan Yuda Fastulloh. Meski tidak ada ubahan ekstrim yang dilakukan pada tubuh motor, namun pemilihan warna yang tepat membuat motor ini sedap dipandang mata.
Pemilik bengkel Ceper Speed Shop yang beralamat di Jl. Curug Pakansari No. 57, Cibinong, Bogor, Jawa Barat ini menggarap semua pekerjaannya sendiri. Grafis airbrush mengusung tema minimalis fungky. Diterjemahkan lewat lekuk garis kaku bersandingkan sedikit grafis bunga dibeberapa sisi.

“Warna sengaja menggunakan gradasi hitam dan kuning biar kelihatan lebih hidup. Selain itu, agar sesuai juga beberapa varisi yang dipakai,” ucap mekanik yang akrab disapa Ceper ini.


Biar tampak kinclong, beberapa bagian ‘disiram’ krom. Seperti tabung shock depan, footstep, behel belakang, dan swing arm. Lalu pelek standar dipensiunkan, pelek aluminium dengan warna selaras dengan body diadopsi agar semakin ciamik.

Bukan cuma body dan kaki-kaki, rangka dan bak mesin kanan-kiri ikut digarap. Biar keliatan lebih keren, warna bunglon metalik disiramkan di bak mesin dan rangka. “Yang keliatan sih cuma di bak mesin. Tapi, kalau penutup tulang tengah ikutan dibuka, keliatan deh belangnya,” canda Ceper.

Nah, biar keliatan update, monel baut Monster warna-warni ditambahkan sebagai pemanis ubahan. “Lagi trendnya,” tutup Ceper. Owhhhh…!. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Comet M1 60/80-17
Ban belakang : Comet M1 60/80-17
Pelek  : Rosi
Steering dumper: Ride It
Monel : Monster
 

Suzuki Satria F-150, Tampilan Buat Turing

Modifikasi Suzuki Satria F-150, 2011 (Bekasi)


Bagi bikers penggila turing, banyak diantara mereka yang acuhkan tampilan motor. Karena bagi mereka, ketahanan mesin lebih penting.

Tapi, tidak bagi Immaduddin Al Azzam. “Bagi saya, tampilan itu membawa kesan positif bagi bikers. Meski punya resiko lecet ketika diajak turing,” bilang Immaduddin yang nengok dipanggil Azzam.

Biar pada saat turing motornya jadi pusat perhatian, Azzam punya jurus jitu! Jurusnya, pakai warna terang di bodi motornya.

Proses pengecetan bodi tidak dilakukan Azzam seorang diri. Doi memberikan kepercayaan penuh ke Ferry yang jago airbrush bodi motor sehinggan tampilan motor jadi lebih eye catching.

 

Proses pengecetan dipilih airbrush model grafis. Motif garis yang saling tarik menarik dipadukan motif, bendera start agar punya nuansa racing. Cat, aplikasi dari Nippon Paint dengan dipadukan pernis Blinkken.

“Bahan cat dan grafis saya sesuaikan dengan kemauan Azzam yang ingin tampilan motornya ceria, tetapi ada aura racingnya,” kata Ferry yang nama bengkelnya Feryant Art ini.  (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan: FDR MP27 90/80-17
Ban belakang: FDR MP27 90/80-17
Knalpot: DB5 Carbon
Footstep depan: Monster
Feryant ART: 0813-8144-4868
 

Test akurasi speedo meter, top speed dan akselerasi New Satria F150


Bro dan sis sekalian….sopo sih yang nggak penasaran dengan performa asli siayago bike. Gaungnya dijalanan begitu kuat membuat banyak biker mengagungkan Satria FU. Engine DOHC namun banderol dikisaran 19jutaan tak ayal menjadikan kuda besi besutan Suzuki ini laris manis. Nah….saat membahas performa mega sport 200-225cc, jebule pihak Otomotif juga melakukan testing varian anyar Satria FU. Asyiknya metode testing mirip dengan sport yang pernah kita bahas diartikel sebelumnya. Sebuah test yang akan menjawab rasa penasaran kita atas performa asli siSuzi. Check it out….

Sebelumnya nyuwun sewu buat bro Aan DKK (team Otomotif)…..IWB numpang sharing hasil test sampeyan. Sekali-sekali nggak opo-opo yo…..ora bedino koq :mrgreen: . Jadi testing ini bukan dilakukan oleh IWB melainkan hasil tes rekan jurnalis Otomotif. Lha piye…arep ngetes dewe nggak ono unit tese je (mau uji sendiri tidak ada unit test-nya red). Oke….lanjut kepokok bahasan.

Dalam sejarahnya…SIS merombak Satria FU sebanyak 2 kali. Yang pertama desain asli dari Raider 150 Thailand, kedua batok lampu mekar dengan paruh diujung dan ketiga perombakan ulang ditahun 2013 dengan shape headlamp lebih kotak (2 revision). Basis engine sama….gen kedua hanya dijejali fitur eco riding switch untuk menekan komsumsi bahan bakar. Sedang yang terbaru (versi 2013)…..kendati identik pihak Suzuki  sedikit memberikan sentuhan pada bahan filter…naiknya main jet dari 110 ke 112,5 plus starter jet dari 25 ke 17,5. Terus gimana setelah ditest??….

Seperti karakter engine overbore pada umumnya…..menurut tim Otomotif, power new Satria FU tidak galak diRPM rendah menengah. Gas dibejek dalam hanya mringis tanda minta kailan putaran mesin lebih tinggi. Benar saja….lengkingan tenaga baru terasa setelah masuk direntang 6000 RPM….hingga melewati 11,000RPM. Dengan tenaga 15,84hp ditunjang bobot super ringan yakni 107kg…..dilintasan trek berjarak 1 km, gas mentok gear enam posisi nunduk……top speed tembus 131km/jam on speedometer. Weleh…kencang juga ya bro. Tapi gimana setelah diintip dengan alat racelogic??.

Alat pengukur menunjuk 121,6km/jam. Yup….walau dibekali speedo digital…..penyimpangan kalibrasi termasuk besar. Hasil tersebut sebenarnya tidak mengagetkan mengingat IWB juga pernah komparasi akurasi speedometer Satria diartikel lawas. Tidak puas hanya menggali kecepatan puncak…tim media Otomotif mengeksplorasi akselerasi tiap kecepatan dan diperoleh hasil sebagai berikut….

Satria0 – 60 km/jam : 4,3 detik

0 – 80 km/jam : 7,3 detik

0 – 100 km/jam : 12,8 detik

0 – 100 M : 7,2 detik

0 – 201 M : 11,3 detik

0 – 402 : 18,3 detik

Top speed : 131 km/jam (racelogic 121,6 km/jam)

Pengetesan tidak afdol tanpa diukur komsumsi bahan bakar Dengan mematikan fitur shift light, seliter Pertamax bisa menempuh jarak 34,4km. Weleh…lumayan irit ya bro. Yup…banderol 19jutaan performa 25jutaan. Ora percoyo?. Monggo intip tabel terlampir….

Duke 200

Pulsar 200NS

Scorpio

Tiger

Satria FU

0-60 km/jam

3,6 detik

3,7 detik

3,7 detik

4,5 detik

4,3 detik

0-80 km/jam

5,3 detik

6,3 detik

6,3 detik

7 detik

7,3 detik

0-100 km/jam

8,5 detik

10,1 detik

9,6 detik

12,6 detik

12,8 detik

0-100 M

6,6 detik

6,9 detik

7 detik

7,1 detik

7,2 detik

0-201 M

10,3 detik

10,8 detik

11 detik

11,2 detik

11,3 detik

0-402 M

16,5 detik

17,3 detik

17,3 detik

18,2 detik

18,3 detik

Top speed

136 km/jam

133km/jam

125km/jam

130km/jam

131km/jam

Racelogic

132,8 km/jam

129 km/jam

116 km/jam

119,2 km/jam

121,6km/jam

Konsumsi BBM

30 km/liter

30,84 km/liter

30km/liter

33 km/liter

34,4km/liter

Kendati jauh menurun dibanding gen pertama….terlihat performa new Satria masih bisa bersanding dengan beberapa sport tanah air. Tidak heran motor ini laris manis bak kacang goreng. Desain masuk disegala lapisan…..engine juga mumpuni. Sayang….untuk akselerasi hingga 100km/jam…..Satria kalah tipis dibanding Tiger sekalipun.  Hanya top speed dimana siSuzi hanya bertekuk lutut melawan Duke 200 serta Pulsar 200NS.  So…new Satria FU 150??. Piye bro…performa sudah sesuai ekspetasi belum??…..(iwb)

Pasang Koil Dan CDI Racing Sendiri, Modal Obeng Kembang Doang!

OTOMOTIFNET – Ingin pasang CDI plus koil racing? Untuk CDI di pasaran ada merek BRT, TDR, Rextor, Daytona, Kitaco, Cheetah Power, Varro dan Andrion yang harganya berkisar Rp 350 ribu hingga di atas 1 juta. Sedang koil pilihannya ada TDR, YZ, Kitaco, R-9, Andrion, Blue Thunder dan masih banyak lagi. Banderol harganya dari Rp 100 ribu – Rp 500 ribuan.

Tak usah bingung bagaimana cara pasangnya. Dijamin bisa dilakukan sendiri kok. Namun biar tak salah pasang yang berakibat fatal, silakan simak trik-triknya berikut ini.


Gbr 1

Gbr 2

CDI
Sebagai alat peraga, untuk CDI akan dipasang pada Suzuki Satria FU 150. “Cara pasangnya tidak sulit. Karena posisinya berada tepat di sebelah kaki kiri, saat kita duduk,” aku Hadi dari Kebongce Motor.

Oh ya, yang dipakai CDI BRT Dualband yang di pasaran bisa ditebus seharga Rp 600 ribu. Sebelumnya siapkan obeng kembang untuk membuka semua baut pengunci bodi dan cable-ties. “Untuk memudahkan menanggalkan bodi motor, sebaiknya buka baut lampu yang posisinya berada di kolong sepatbor belakang,” saran pria kurus ini.

Bila bodi sudah terbuka, maka posisi CDI akan jelas terlihat (gbr.1), yakni berada di sisi sebelah kiri. Memang sedikit malu alias ngumpet, karena letaknya agak ke dalam demi menjaga keamanan dari tangan jail yang mau mencuri.

Karena posisi yang agak ke dalam serta ada karet pegangan CDI-nya, kita harus meraba dan mengangkat ke atas (gbr.2) agar lepas dari pegangannya. “Selanjutnya tinggal copot soket yang menyambung pada CDI itu. Cukup tarik pakai tangan dengan sedikit tenaga,” imbuh pria ramah ini.

Lalu lepas konektor kabelnya, pasang deh CDI racing yang dikehendaki. “Eits, tapi tunggu dulu! Karena bentuk CDI aftermarket rata-rata lebih besar dari standar, jadi pemasangannya harus menggunakan cable-ties yang dililitkan pada CDI ke rangka (gbr.3) yang ada disekitarnya,” anjur pria humoris ini.


Gbr 3

Gbr 4

Gbr 5

Gbr 6

Koil
Pasang CDI sudah, kini beralih pasang koil. Kali ini diperagakan pada Suzuki Shogun 125. “Cara pasangnya gampang, soalnya posisinya ada di dekat karburator. Cuma modal obeng kembang dan gunting,” ujar Trisno, penggawang Bengkel Ario Motor (BAM).

Langkah awal, buka seluruh sayap depan dan cover tengah pakai obeng plus. Dari sisi kiri motor, koil akan kelihatan nempel pada rangka, dekat dengan karburator. “Untuk motor Honda, posisinya di sebelah kanan rangka. Tapi tak jauh juga dari karburator,” aku pria yang ngepos di Jl. Raya Srengseng No. 35 Jakbar.

Selanjutnya lepas konektor kabel positif koil warna biru putih, cukup ditarik pakai tangan (gbr.4). Lalu dilanjut lepas 2 baut pengikat koil pakai obeng kembang. “Kalau motor Yamaha, melepas bautnya mesti pakai kunci pas/ring-10,” imbuhnya.

Kelar lepas baut tersebut, copot cop busi dari kabelnya dengan cara cukup memutarnya berlawanan arah jarum jam (gbr.5). “Pasalnya di dalam cop busi terdapat ulirnya. Kalau asal dicabut tanpa diputar, akan sangat keras dan bisa merusak serat kabel koil,” wanti bapak 3 anak ini.

Terakhir, tinggal pasang koil baru dengan cara kebalikan saat melepasnya. “Perlu dicermati, kalau kabel busi terlalu panjang, sebaiknya dipotong pakai gunting (gbr.6) atau pemotong lain. Kalau tidak dipotong, hasil pengapiannya akan kurang maksimal,” wanti pria yang pengalaman oprek motor lebih dari 10 tahun ini.

Bagaimana, gampang toh? Cukup pakai obeng kembang bisa pasang CDI dan koil racing.

Ragam Problem Satria FU150, Bagaimana Solusinya?

OTOMOTIFNET – Bebek super berlogo S ini memang anak muda banget, yang cenderung berkarakter sporty dan serbakencang serta tangguh melibas segala medan. Image itu memang telah dibangun oleh generasi Suzuki Satria waktu masih zaman 2-tak.

Eits tunggu dulu! Ternyata ada juga lo problem umum bawaan orok di Suzuki Satria FU 150 (FU) ini. Tapi jangan khawatir, karena semua ada solusinya. Berikut problem umum dan cara mengatasinya. Intip aja langsung. Dijamin di jalan lebih aman!


Gbr 1

Gbr 2

Mesin Brebet di Rpm Rendah
Masalah ini cukup menyebalkan, karena kalau sedang dalam posisi ngantre macet, mesin telat merespon terhadap putaran gas. “Penyebabnya, karena FU menggunakan pilot jet ukuran 12,5. Telalu kecil untuk mesin 150 cc yang berventuri karburator 26,” ujar Muhammad Amin, pemilik sekaligus mekanik SAM Motor di kawasan Pal Batu, Tebet, Jaksel.

Masih ujarnya. “Ubah aja pilot jetnya dengan yang lebih besar. Bisa menebus ukuran 15 (gbr.1), kalau bisa yang orisinal ya! Soalnya ukuran yang presisi sangat mutlak hukumnya di karburator. Kalau enggak presisi, risikonya karburator susah disetting,” ucap mekanik berpengalaman lebih dari 10 tahun ini.


Gbr 3

Gbr 4

Susah Hidup
Terutama setelah kehujanan atau habis dicuci. Pemicunya,  jarak sasis dan kepala silinder renggang serta posisi mesin vertikal, air mudah masuk ke tutup busi dan busi. Alhasil air juga bisa masuk langsung ke silinder head (gbr.2). Tambah lagi desain di sekitar lubang busi di kepala silinder ada got/lubang pembuangannya.

Jangan lupa di bawah sambungan knalpot ada lubang buat pembuangan air dari got tersebut. Sehingga mesti dibersihin/dicek dan jangan sampai ada kotoran yang menyumbatnya.

Kalau sudah telanjur kotor/tersumbat, solusinya disodok saja pakai kunci L-4 (gbr.3). Kalau sudah tidak tersumpal, tinggal manfaatkan semprotan angin kompresor untuk membersihkannya.

Ada Suara Berisik
Umumnya terdengar dari  head dan blok kiri. Kalau urusan yang satu ini, gak salah dan tak bukan disebabkan oleh keteng yang mulur. Umumnya masalah terdapat pada tensioner keteng. Lantaran usia pakai sudah lama, ketegangannya jadi berkurang.

“Eits, jangan terapkan metode lama yang dilas ujungnya terus ditambah baut ya, karena malah akan memperpendek umur keteng. Solusinya dengan mengganti per tensioner (gbr.4) dengan yang lebih keras,” tutup Amin.